Rabu, 11 Februari 2009

DAYA DOBRAK



Dinding, tembok, batu cadas, bahkan gunung menjulang, seringkali menghadang upaya dan perjuangan kita. Sulit memang mengatasinya, apalagi hanya berbekal mental "cemen", mudah ambruk dan cepat mengibarkan "bendera putih". Arena kehidupan banyak menyisakan orang-orang terpuruk, tidak berdaya, dan akhirnya dipermainkan pihak lain. Banyak orang yang hanya menjadi pengekor, bahkan bagai budak belian, hanya karena "kalah" dalam arena kehidupan. Kalah bertanding, kalah bersaing, kalah dan selalu kalah.

Kompetisi kehidupan sebenarnya harus dimenangkan. Kenapa ? Karena kita tidak punya pilihan selain menang. Sebab kalah adalah mati, sebab kalah adalah gugur, dan kalah hanyalah jadi penonton yang pasif. Lebih parah lagi, orang kalah harus selalu mau dan terpaksa mengikuti kemauan orang lain. Menyedihkan, sehari-hari hanya memperhatikan telunjuk orang lain, hanya menuruti instruksi pihak lain. Berat memang.

Bagaimanapun, menjalani kehidupan harus dilengkapi dengan daya dobrak. Sebab kalau hanya "nrimo", kehidupan begitu monoton, pasrah, takluk, menyerah. Ah hanya bikin "bete" saja. Ada saatnya "berontak" dalam kehidupan, yaitu jika kondisi tidak adil, dipinggirkan, ada diskriminasi, atau ada "penjajahan". Keluarkan daya dobrak yang dimiliki. Ungkapkan ketidaksetujuan, tentu saja dengan cara yang santun, elegan dan strategis. Jangan konyol, mendobrak lalu menghancurkan diri sendiri. Daya dobrak adalah untuk kemenangan dan kebangkitan diri. Dobrak semua ketidak-adilan, dobrak semua ketidak-beresan, dobrak semua kungkungan.

Tentu saja termasuk mendobrak belenggu yang selama ini mengurung diri sendiri. Apapun namanya, zona kenyamanan atau belenggu psikologis, jangan biarkan makin mencengkeram. Bebaskan diri dari "ketidak-enakan", lepaskan diri dari "ketidak-nyamanan", terbang, lepas, merdeka. Oooo ooo ya "bongkar". Ayo "goyang duyu...". Ya, pokoknya bebaskan akyu dan dirimyu. (Atep Afia).

Sumber Gambar :
http://www.hedweb.com/animimag/horse-beach.jpg

Jumat, 16 Januari 2009

STOP BERSEMBUNYI !!!


Bersembunyi itu cari aman. Namun benarkah dengan bersembunyi, segala sesuatunya jadi aman? Atau malah sebaliknya, dengan bersembunyi risiko yang dihadapi akan jauh lebih berat. Ya, memang, sebagian besar orang bersembunyi menghindari risiko. Tidak mau terlibat, tidak mau bertanggung-jawab, dan takut disalahkan. Enggak ada yang mau kena batunya, oleh sebab itu buru-buru menghindari batu. Padahal, siapa tahu batu itu sebenarnya adalah emas, atau berlian.

Kebanyakan orang bersembunyi, takut duduk di depan, enggan untuk tampil ke permukaan. Dipikirnya, dengan bersembunyi segala sesuatunya akan berlangsung dengan lancar. Padahal sama sekali tidak demikian. Dengan besembunyi, risiko yang datang akan berlipat. Nah, lho ! Oleh sebab itu, stop bersembunyi. Segera tampil di depan. Jadilah pemimpin yang mengayomi, bukan sekedar pengikut yang selalu mengekor. Hindarilah menjadi orang yang menginduk kepada induk yang tak jelas. Induknya hilang, maka tempat persembunyiannya pun musnah.

Kehidupan penuh tantangan, hambatan, peluang sekaligus ancaman. Detik demi detik kita dihadapkan kepada empat hal tersebut. persoalannya, apakah kita sekedar mencari aman atau berkompromi, bahkan menghindar. Atau kita menghadapinya dengan sikap jantan dan percaya diri. Sebenarnya tidak ada jalan persembunyian bagi setiap orang. Kalau Allah SWT sudah memanggil, berada di manapun dan kapanpun, setiap orang harus siap. Tidak bisa bersembunyi. (Atep Afia)

Sumber Gambar :
http://manik.web.id/wp-content/uploads/takut1.jpg

Minggu, 21 Desember 2008

JANGAN "CEMEN"


Cemen, cetek, mental peuyeum, kurang nyali, dan sebagainya, menunjukkan istilah sikap hidup yang tidak ngotot, mudah menyerah, terima nasib atau kurang berdaya. Kasihan deh loe. Begitu istilah anak muda.

Padahal arena kehidupan begitu berat, penuh ranjau dan rintangan. Rimba kehidupan masih berupa belantara, hanya yang ulet, gigih dan bernyali yang bisa bertahan. Mempertahankan hidup adalah kewajiban, bahkan bukan sekedar mempertahankan, tetapi menikmati, tumbuh, berkembang, bahkan membesar. Ya, manusia kudu membesar. Awalnya saja bayi merah, berubah jadi Balita, anak-anak, remaja, dewasa, Remako (remaja kolot) dan menua. Jadi ada fase membesar dalam kehidupan manusia. Jelas, yang membesar seharusnya bukan hanya fisiknya, tetapi juga mental, intelektual dan spiritualnya.

Manusia tidak boleh cemen, karena tugasnya begitu berat. Dengan sikap hidup yang cemen, maka dengan sendirinya akan menterlantarkan dirinya sendiri, dan orang-orang di belakangnya. Lihatlah di belantara Afrika, seekor singa jantan begitu gagah. Ia memerankan dirinya seoptimal mungkin, ia begitu menguasai medan. Tampak tidak ada sebersit keraguan diwajahnya. Pede abis lagi. Begitu kira-kira komentar teman-teman Singa Afrika.

Kehidupan yang dijalani dengan setengah hati, pikiran setengah, kemampuan setengah, obsesi setengah, energy setengah, tindakan setengah, hanyalah akan menghasilkan kehidupan dan pribadi yang tidak berujung. Tidak jelas kemana arah, terlunta-lunta dalam belantara kehidupan, akhirnya hanya akan jadi gelandangan yang tersisihkan, dicibir, dipandang sebelah mata, dihina. Kasihan deh loe. Oleh sebab itu, bangkitlah, mengaumlah, tunjukan keperkasaan fisik, mental, intelektual, spiritual, dan instrument kepribadian lainnya. Jelajahi belantara kehidupan, kuasailah. Namun dengan tetap memiliki keyakinan, bahwa di balik kehidupan kita ada Allah yang Maha Hidup. (Atep Afia).


Sumber Gambar :

http://species.wikimedia.org


Senin, 15 Desember 2008

GUTS


Genuine Urge To Succeed atau GUTS dapat diartikan "keinginan yang sungguh-sungguh untuk berhasil". Ya, tepat sekali. untuk berhasil diperlukan keinginan, tetapi bukan sekedar keinginan, tetapi keinginan yang sungguh-sungguh. Hal ini ditandai dengan semangat yang terus berkobar, seolah tidak pernah surut. Sebelum puncak gunung tergapai, maka proses pendakian terus dilanjutkan. Rintangan sudah pasti ada, tetapi rintangan macam apapun tentu dapat dikalahkan. James Lee Valentine, seorang motivator ternama, menyampaikan beberapa motto yang dapat membakar semangat kita semua :


1. Kerjakan sekarang !

2. Tanpa "GUTS" tidak ada kemuliaan !

3. Keberadaan saya tergantung saya sendiri !

4. Saya akan menjadi yang terbaik semampu saya !

5. Masa lalu saya tidak sama dengan masa depan saya !

6. Saya harus mengerjakan apa yang saya senangi dan menyenangi apa yang saya kerjakan !

7. Jika hati saya ada di situ, maka langit adalah batasnya !

8. Jika saya memiliki komitmen, selalu akan ada jalan !

9. Bila kesulitan menghadang, mereka yang tegar akan terus maju !


Baca, simak, hayati motto di atas, kemudian masukkan ke dalam bawah sadar kita. Sehingga konsep berubah menjadi aksi atau tindakan. Hidup tanpa dijalani dengan kemauan yang kuat dan semangat yang berkobar, sama saja dengan mati sebelum mati. Sebab pencapaian tidak akan memuaskan, bahkan mengecewakan. Oleh sebab itu, bangkitlah, enyahkan selimut kemalasan. Ambil tindakan ! Sekarang ! (Atep Afia)
Sumber gambar :