
Dinding, tembok, batu cadas, bahkan gunung menjulang, seringkali menghadang upaya dan perjuangan kita. Sulit memang mengatasinya, apalagi hanya berbekal mental "cemen", mudah ambruk dan cepat mengibarkan "bendera putih". Arena kehidupan banyak menyisakan orang-orang terpuruk, tidak berdaya, dan akhirnya dipermainkan pihak lain. Banyak orang yang hanya menjadi pengekor, bahkan bagai budak belian, hanya karena "kalah" dalam arena kehidupan. Kalah bertanding, kalah bersaing, kalah dan selalu kalah.
Kompetisi kehidupan sebenarnya harus dimenangkan. Kenapa ? Karena kita tidak punya pilihan selain menang. Sebab kalah adalah mati, sebab kalah adalah gugur, dan kalah hanyalah jadi penonton yang pasif. Lebih parah lagi, orang kalah harus selalu mau dan terpaksa mengikuti kemauan orang lain. Menyedihkan, sehari-hari hanya memperhatikan telunjuk orang lain, hanya menuruti instruksi pihak lain. Berat memang.
Bagaimanapun, menjalani kehidupan harus dilengkapi dengan daya dobrak. Sebab kalau hanya "nrimo", kehidupan begitu monoton, pasrah, takluk, menyerah. Ah hanya bikin "bete" saja. Ada saatnya "berontak" dalam kehidupan, yaitu jika kondisi tidak adil, dipinggirkan, ada diskriminasi, atau ada "penjajahan". Keluarkan daya dobrak yang dimiliki. Ungkapkan ketidaksetujuan, tentu saja dengan cara yang santun, elegan dan strategis. Jangan konyol, mendobrak lalu menghancurkan diri sendiri. Daya dobrak adalah untuk kemenangan dan kebangkitan diri. Dobrak semua ketidak-adilan, dobrak semua ketidak-beresan, dobrak semua kungkungan.
Tentu saja termasuk mendobrak belenggu yang selama ini mengurung diri sendiri. Apapun namanya, zona kenyamanan atau belenggu psikologis, jangan biarkan makin mencengkeram. Bebaskan diri dari "ketidak-enakan", lepaskan diri dari "ketidak-nyamanan", terbang, lepas, merdeka. Oooo ooo ya "bongkar". Ayo "goyang duyu...". Ya, pokoknya bebaskan akyu dan dirimyu. (Atep Afia).
Sumber Gambar :
http://www.hedweb.com/animimag/horse-beach.jpg