Cemen, cetek, mental peuyeum, kurang nyali, dan sebagainya, menunjukkan istilah sikap hidup yang tidak ngotot, mudah menyerah, terima nasib atau kurang berdaya. Kasihan deh loe. Begitu istilah anak muda.
Padahal arena kehidupan begitu berat, penuh ranjau dan rintangan. Rimba kehidupan masih berupa belantara, hanya yang ulet, gigih dan bernyali yang bisa bertahan. Mempertahankan hidup adalah kewajiban, bahkan bukan sekedar mempertahankan, tetapi menikmati, tumbuh, berkembang, bahkan membesar. Ya, manusia kudu membesar. Awalnya saja bayi merah, berubah jadi Balita, anak-anak, remaja, dewasa, Remako (remaja kolot) dan menua. Jadi ada fase membesar dalam kehidupan manusia. Jelas, yang membesar seharusnya bukan hanya fisiknya, tetapi juga mental, intelektual dan spiritualnya.
Manusia tidak boleh cemen, karena tugasnya begitu berat. Dengan sikap hidup yang cemen, maka dengan sendirinya akan menterlantarkan dirinya sendiri, dan orang-orang di belakangnya. Lihatlah di belantara Afrika, seekor singa jantan begitu gagah. Ia memerankan dirinya seoptimal mungkin, ia begitu menguasai medan. Tampak tidak ada sebersit keraguan diwajahnya. Pede abis lagi. Begitu kira-kira komentar teman-teman Singa Afrika.
Kehidupan yang dijalani dengan setengah hati, pikiran setengah, kemampuan setengah, obsesi setengah, energy setengah, tindakan setengah, hanyalah akan menghasilkan kehidupan dan pribadi yang tidak berujung. Tidak jelas kemana arah, terlunta-lunta dalam belantara kehidupan, akhirnya hanya akan jadi gelandangan yang tersisihkan, dicibir, dipandang sebelah mata, dihina. Kasihan deh loe. Oleh sebab itu, bangkitlah, mengaumlah, tunjukan keperkasaan fisik, mental, intelektual, spiritual, dan instrument kepribadian lainnya. Jelajahi belantara kehidupan, kuasailah. Namun dengan tetap memiliki keyakinan, bahwa di balik kehidupan kita ada Allah yang Maha Hidup. (Atep Afia).
Sumber Gambar :
http://species.wikimedia.org
