Rabu, 29 April 2009
Rabu, 11 Februari 2009
DAYA DOBRAK

Dinding, tembok, batu cadas, bahkan gunung menjulang, seringkali menghadang upaya dan perjuangan kita. Sulit memang mengatasinya, apalagi hanya berbekal mental "cemen", mudah ambruk dan cepat mengibarkan "bendera putih". Arena kehidupan banyak menyisakan orang-orang terpuruk, tidak berdaya, dan akhirnya dipermainkan pihak lain. Banyak orang yang hanya menjadi pengekor, bahkan bagai budak belian, hanya karena "kalah" dalam arena kehidupan. Kalah bertanding, kalah bersaing, kalah dan selalu kalah.
Kompetisi kehidupan sebenarnya harus dimenangkan. Kenapa ? Karena kita tidak punya pilihan selain menang. Sebab kalah adalah mati, sebab kalah adalah gugur, dan kalah hanyalah jadi penonton yang pasif. Lebih parah lagi, orang kalah harus selalu mau dan terpaksa mengikuti kemauan orang lain. Menyedihkan, sehari-hari hanya memperhatikan telunjuk orang lain, hanya menuruti instruksi pihak lain. Berat memang.
Bagaimanapun, menjalani kehidupan harus dilengkapi dengan daya dobrak. Sebab kalau hanya "nrimo", kehidupan begitu monoton, pasrah, takluk, menyerah. Ah hanya bikin "bete" saja. Ada saatnya "berontak" dalam kehidupan, yaitu jika kondisi tidak adil, dipinggirkan, ada diskriminasi, atau ada "penjajahan". Keluarkan daya dobrak yang dimiliki. Ungkapkan ketidaksetujuan, tentu saja dengan cara yang santun, elegan dan strategis. Jangan konyol, mendobrak lalu menghancurkan diri sendiri. Daya dobrak adalah untuk kemenangan dan kebangkitan diri. Dobrak semua ketidak-adilan, dobrak semua ketidak-beresan, dobrak semua kungkungan.
Tentu saja termasuk mendobrak belenggu yang selama ini mengurung diri sendiri. Apapun namanya, zona kenyamanan atau belenggu psikologis, jangan biarkan makin mencengkeram. Bebaskan diri dari "ketidak-enakan", lepaskan diri dari "ketidak-nyamanan", terbang, lepas, merdeka. Oooo ooo ya "bongkar". Ayo "goyang duyu...". Ya, pokoknya bebaskan akyu dan dirimyu. (Atep Afia).
Sumber Gambar :
http://www.hedweb.com/animimag/horse-beach.jpg
Jumat, 16 Januari 2009
STOP BERSEMBUNYI !!!
Bersembunyi itu cari aman. Namun benarkah dengan bersembunyi, segala sesuatunya jadi aman? Atau malah sebaliknya, dengan bersembunyi risiko yang dihadapi akan jauh lebih berat. Ya, memang, sebagian besar orang bersembunyi menghindari risiko. Tidak mau terlibat, tidak mau bertanggung-jawab, dan takut disalahkan. Enggak ada yang mau kena batunya, oleh sebab itu buru-buru menghindari batu. Padahal, siapa tahu batu itu sebenarnya adalah emas, atau berlian.
Kebanyakan orang bersembunyi, takut duduk di depan, enggan untuk tampil ke permukaan. Dipikirnya, dengan bersembunyi segala sesuatunya akan berlangsung dengan lancar. Padahal sama sekali tidak demikian. Dengan besembunyi, risiko yang datang akan berlipat. Nah, lho ! Oleh sebab itu, stop bersembunyi. Segera tampil di depan. Jadilah pemimpin yang mengayomi, bukan sekedar pengikut yang selalu mengekor. Hindarilah menjadi orang yang menginduk kepada induk yang tak jelas. Induknya hilang, maka tempat persembunyiannya pun musnah.
Kehidupan penuh tantangan, hambatan, peluang sekaligus ancaman. Detik demi detik kita dihadapkan kepada empat hal tersebut. persoalannya, apakah kita sekedar mencari aman atau berkompromi, bahkan menghindar. Atau kita menghadapinya dengan sikap jantan dan percaya diri. Sebenarnya tidak ada jalan persembunyian bagi setiap orang. Kalau Allah SWT sudah memanggil, berada di manapun dan kapanpun, setiap orang harus siap. Tidak bisa bersembunyi. (Atep Afia)
Sumber Gambar :
http://manik.web.id/wp-content/uploads/takut1.jpg
Langganan:
Postingan (Atom)